Sajak: Anis Yuliana Samara
Aduhai Ma, cermin memantulkan ayu rupaku. Kukedipkan mata, seketika eye shadow
mengingatkanku pada pesta perkawinan tempo dulu. Kau bilang, hidungku mancung seperti
aktris-aktris luar negeri di televisi. Mascara untuk menebalkan bulu-bulu mata. Jangan lupa
tipiskan tepian bibirku dengan pencil cosmetic dan beri sentuhan lip ice. Tahun berapa ini Ma, seorang laki-laki mengawiniku dengan sekuntum mawar mekar sebagai mahar. Benarkah?
Aduhai Ma, jika jodoh, pasti berjodoh. Tapi kata Mama, pasrah itu berarti kalah. Sebagaimana penyair laki-laki ingin mengawini seorang perempuan dengan mahar puisi - apakah ia kalah jika benar-benar tidak ada perempuan yang tertawar? Barangkali ini bukan soal pasrah
Ma. Puisi melampaui resepsi perkawinan Ma.
Jogjakarta, 2012.
Aduhai Ma, cermin memantulkan ayu rupaku. Kukedipkan mata, seketika eye shadow
mengingatkanku pada pesta perkawinan tempo dulu. Kau bilang, hidungku mancung seperti
aktris-aktris luar negeri di televisi. Mascara untuk menebalkan bulu-bulu mata. Jangan lupa
tipiskan tepian bibirku dengan pencil cosmetic dan beri sentuhan lip ice. Tahun berapa ini Ma, seorang laki-laki mengawiniku dengan sekuntum mawar mekar sebagai mahar. Benarkah?
Aduhai Ma, jika jodoh, pasti berjodoh. Tapi kata Mama, pasrah itu berarti kalah. Sebagaimana penyair laki-laki ingin mengawini seorang perempuan dengan mahar puisi - apakah ia kalah jika benar-benar tidak ada perempuan yang tertawar? Barangkali ini bukan soal pasrah
Ma. Puisi melampaui resepsi perkawinan Ma.
Jogjakarta, 2012.
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar