Lalabet

Sajak: F. Rizal Alief

Tiap kali ada yang meninggal dunia
kami biasa membuka pintu dan jendela
membiarkan udara membawa kata-kata berbunga
di bibir kami yang mekar seketika.
Daun-daun kenangan berjatuhan
berayun-ayun ke dalam ingatan.

Lalu kami mengunjungi rumah duka
sebagai anak dan orang tua
sebagai saudara
sebagai pasangan yang selalu muda
sebagai orang yang pernah hidup bersama
dalam suka-duka
atau sebagai seseorang yang tak pernah ada luka.

Sebagian dari kami membawa cangkul dan sabit pergi menggali kuburan
setiap hentakan
kami mendengar desau kematian,
keringat menetes perlahan
melubangi keperkasaan
yang tak lebih dalam dari sejengkal galian

sebagian yang lain datang menyunggi beras dan pisau dapur
untuk menutup lubang-lubang air mata
dan memotong gelombagnnya.

Setiap malam
sampai tujuh malam
kami menyela di antara wangi keminyan dupa
yang kami bakar di atas sepat kelapa
sampai tubuh kami tiada
tinggal doa-doa yang kian menyala
melebihi purnama.

Setiap hari
sampai tujuh hari
tetamu perempuan berdatangan
lalu pulang dengan se-ceppo nasi putih bersih yang menyimpan rute perjalanan
ke rumah baru
di ujung rumah terdahulu.

Hari kedelapan dan selanjutnya
di rumah masing-masing, kami semua
sibuk menata sisa waktu
sebelum beku dan lebih dingin dari sebongkah batu.

TBY, 12-2012

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons