Sajak-Sajak: Dedy Hariyono
”untuk dua putri pulau”
Hangat alir air mata
Menyapa pagimu dengan
Pesan singkat lewat selir pantai
Selendang layar perahu baru dikibarkan
Gelombang telah ku robek
Tetapi dingin dan seraut wajahnya masih kerap menyapa
Saling merayu tampa rasa
Sumenep, 24 Agustus 2011
Haruskah Kembali Sepih
“Menutupi Tangis”
Kilauan warna emas kasih yang kau titipkan
Pada paras
purnama bulan November
Semoga tak
hanya menjadi bias sepi
Senyummu dan tak gampang memudar
Hingga seribu purnama esok
Walaupun ku tahu hari ini kau lebih awal
Mengemmas cerita, menafsir curhat yang bagiku
Itu
skenario belaka yang tak ada fakta
Sumenep 19-11-2012
Aku Semakin Tak Bisa
Aku semakin tak bisa
Memaknai malam-malamu
Sebab sunyi masih terasa selalu berpijak
Pada sudut dan dua tepi bibirmu
Terkadang menyelam ke dasar hatimu
Canda,tawa,luka
Menyisahkan asap dibubung langit kesetianmu_
Lalu kucoba susuri jalan setapak jejakmu
Namun berbisik jauh
Sejauh bumi ini untuk kujelajahi
Seluas samudera yang tak mungkin ku arungi
Setinggi gunung yang tak sunggup ku tapaki
Dengan kaki.
Sudahlah, biarkan sepi
Menjadi penggalan malamku
Tapi entah darimana
.? ini.
Akankah esok ada untukku sebuah ruang terbuka,
Tapi bukan terpaksa
Atau pelantara bekas derita
Yogyakarta, 2011
”untuk dua putri pulau”
Hangat alir air mata
Menyapa pagimu dengan
Pesan singkat lewat selir pantai
Selendang layar perahu baru dikibarkan
Gelombang telah ku robek
Tetapi dingin dan seraut wajahnya masih kerap menyapa
Saling merayu tampa rasa
Sumenep, 24 Agustus 2011
Haruskah Kembali Sepih
“Menutupi Tangis”
Kilauan warna emas kasih yang kau titipkan
Pada paras
purnama bulan November
Semoga tak
hanya menjadi bias sepi
Senyummu dan tak gampang memudar
Hingga seribu purnama esok
Walaupun ku tahu hari ini kau lebih awal
Mengemmas cerita, menafsir curhat yang bagiku
Itu
skenario belaka yang tak ada fakta
Sumenep 19-11-2012
Aku Semakin Tak Bisa
Aku semakin tak bisa
Memaknai malam-malamu
Sebab sunyi masih terasa selalu berpijak
Pada sudut dan dua tepi bibirmu
Terkadang menyelam ke dasar hatimu
Canda,tawa,luka
Menyisahkan asap dibubung langit kesetianmu_
Lalu kucoba susuri jalan setapak jejakmu
Namun berbisik jauh
Sejauh bumi ini untuk kujelajahi
Seluas samudera yang tak mungkin ku arungi
Setinggi gunung yang tak sunggup ku tapaki
Dengan kaki.
Sudahlah, biarkan sepi
Menjadi penggalan malamku
Tapi entah darimana
.? ini.
Akankah esok ada untukku sebuah ruang terbuka,
Tapi bukan terpaksa
Atau pelantara bekas derita
Yogyakarta, 2011
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar