Sajak: Slendang Sulaiman
nun, duduk disini kita hanya mencoba melapas kebingungan
kekacauan pikiran dan hati yang tidak kita mengerti
lalu kita akan selalu berpura memahami keadaan
sambil bicara lugas dan tegas agar tak tampak dalam kita
sesuata yang mencemaskan,
tersenyumlah nun,
sebentar lagi burung-burung akan berkicau dalam sangkar
sebab tak akan ada lagi tempat untuk bersarang
nun, cigaret + secangkir kopi setidaknya dapat mengikis
kebingungan kita yang akut. meski di koran dan televisi
penderitaan demi penderitaan digelar dengan kemewahan
nun, kelak airmata akan menjelma embun
di punggung petani, buruh, nelayan dan sebangsanya
sebab kita hanya punya air mata dan doa
“laa haula wa laa quawwata
illa billahil’aliyyil ‘adziim..”
Blandongan, Agustus 2012
nun, duduk disini kita hanya mencoba melapas kebingungan
kekacauan pikiran dan hati yang tidak kita mengerti
lalu kita akan selalu berpura memahami keadaan
sambil bicara lugas dan tegas agar tak tampak dalam kita
sesuata yang mencemaskan,
tersenyumlah nun,
sebentar lagi burung-burung akan berkicau dalam sangkar
sebab tak akan ada lagi tempat untuk bersarang
nun, cigaret + secangkir kopi setidaknya dapat mengikis
kebingungan kita yang akut. meski di koran dan televisi
penderitaan demi penderitaan digelar dengan kemewahan
nun, kelak airmata akan menjelma embun
di punggung petani, buruh, nelayan dan sebangsanya
sebab kita hanya punya air mata dan doa
“laa haula wa laa quawwata
illa billahil’aliyyil ‘adziim..”
Blandongan, Agustus 2012