Perihal Kebingungan Kita Pada Nasib

Sajak: Slendang Sulaiman
 
nun, duduk disini kita hanya mencoba melapas kebingungan
kekacauan pikiran dan hati yang tidak kita mengerti
lalu kita akan selalu berpura memahami keadaan
sambil bicara lugas dan tegas agar tak tampak dalam kita
sesuata yang mencemaskan,

tersenyumlah nun,
sebentar lagi burung-burung akan berkicau dalam sangkar
sebab tak akan ada lagi tempat untuk bersarang

nun, cigaret + secangkir kopi setidaknya dapat mengikis
kebingungan kita yang akut. meski di koran dan televisi
penderitaan demi penderitaan digelar dengan kemewahan

nun, kelak airmata akan menjelma embun
di punggung petani, buruh, nelayan dan sebangsanya
sebab kita hanya punya air mata dan doa

laa haula wa laa quawwata
illa billahil’aliyyil ‘adziim..


Blandongan, Agustus 2012

Lalabet

Sajak: F. Rizal Alief

Tiap kali ada yang meninggal dunia
kami biasa membuka pintu dan jendela
membiarkan udara membawa kata-kata berbunga
di bibir kami yang mekar seketika.
Daun-daun kenangan berjatuhan
berayun-ayun ke dalam ingatan.

Lalu kami mengunjungi rumah duka
sebagai anak dan orang tua
sebagai saudara
sebagai pasangan yang selalu muda
sebagai orang yang pernah hidup bersama
dalam suka-duka
atau sebagai seseorang yang tak pernah ada luka.

Sebagian dari kami membawa cangkul dan sabit pergi menggali kuburan
setiap hentakan
kami mendengar desau kematian,
keringat menetes perlahan
melubangi keperkasaan
yang tak lebih dalam dari sejengkal galian

sebagian yang lain datang menyunggi beras dan pisau dapur
untuk menutup lubang-lubang air mata
dan memotong gelombagnnya.

Setiap malam
sampai tujuh malam
kami menyela di antara wangi keminyan dupa
yang kami bakar di atas sepat kelapa
sampai tubuh kami tiada
tinggal doa-doa yang kian menyala
melebihi purnama.

Setiap hari
sampai tujuh hari
tetamu perempuan berdatangan
lalu pulang dengan se-ceppo nasi putih bersih yang menyimpan rute perjalanan
ke rumah baru
di ujung rumah terdahulu.

Hari kedelapan dan selanjutnya
di rumah masing-masing, kami semua
sibuk menata sisa waktu
sebelum beku dan lebih dingin dari sebongkah batu.

TBY, 12-2012

Pelacur Malam

Sajak: Hasan Albana

Indah berkecapung derita.
hanya itu yang ia rasakan

setiap suara yang keluar dari mulutnya
adalah ancaman baginya
tak ada pilihan. kecuali merayu,
meski harus berbohong

kasih sayang hanya sebuah semu,
dan ia harus menggadaikan
martabat dan kemaluannya
demi sesuap nasi dipinggiran jalan

terkadang, dia harus lari
maengejar agin yang tak mesti.
bahkan harus bersembunyi
ketika ada tikus-tikus berseragam

Yogyakarta, 2011

Salam Rindu Sedingin Pagi

Sajak-Sajak: Dedy Hariyono

”untuk dua putri pulau”
Hangat alir air mata
Menyapa pagimu dengan
Pesan singkat lewat selir pantai
Selendang layar perahu baru dikibarkan
Gelombang telah ku robek
Tetapi dingin dan seraut wajahnya masih kerap menyapa
Saling merayu tampa rasa

Sumenep, 24 Agustus 2011


Haruskah Kembali Sepih
“Menutupi Tangis”

Kilauan warna emas kasih yang kau titipkan
Pada paras
purnama bulan November
Semoga tak
hanya menjadi bias sepi
Senyummu dan tak gampang memudar
Hingga seribu purnama esok
Walaupun ku tahu hari ini kau lebih awal
Mengemmas cerita, menafsir curhat yang bagiku
Itu
skenario belaka yang tak ada fakta

Sumenep 19-11-2012


Aku Semakin Tak Bisa

Aku semakin tak bisa
Memaknai malam-malamu
Sebab sunyi masih terasa selalu berpijak
Pada sudut dan dua tepi bibirmu
Terkadang menyelam ke dasar hatimu
Canda,tawa,luka
Menyisahkan asap dibubung langit kesetianmu_
Lalu kucoba susuri jalan setapak jejakmu
Namun berbisik jauh
Sejauh bumi ini untuk kujelajahi
Seluas samudera yang tak mungkin ku arungi
Setinggi gunung yang tak sunggup ku tapaki
Dengan kaki.
Sudahlah, biarkan sepi
Menjadi penggalan malamku
Tapi entah darimana
.? ini.
Akankah esok ada untukku sebuah ruang terbuka,
Tapi bukan terpaksa
Atau pelantara bekas derita

Yogyakarta, 2011

Sekuntum Mawar Mekar : Mahar Perkawinan

Sajak: Anis Yuliana Samara

Aduhai Ma, cermin memantulkan ayu rupaku. Kukedipkan mata, seketika eye shadow
mengingatkanku pada pesta perkawinan tempo dulu. Kau bilang, hidungku mancung seperti
aktris-aktris luar negeri di televisi. Mascara untuk menebalkan bulu-bulu mata. Jangan lupa
tipiskan tepian bibirku dengan pencil cosmetic dan beri sentuhan lip ice. Tahun berapa ini Ma, seorang laki-laki mengawiniku dengan sekuntum mawar mekar sebagai mahar. Benarkah?
Aduhai Ma, jika jodoh, pasti berjodoh. Tapi kata Mama, pasrah itu berarti kalah. Sebagaimana penyair laki-laki ingin mengawini seorang perempuan dengan mahar puisi - apakah ia kalah jika benar-benar tidak ada perempuan yang tertawar? Barangkali ini bukan soal pasrah
Ma. Puisi melampaui resepsi perkawinan Ma.

Jogjakarta, 2012.

Sketsa Rindu

Sajak: Rusydi Tolareng

Kadang aku ingin terjatuh ke cakrawala
Mengintip, memanggilmu kembali
Bersama angin bisu yang mendebu-membatu
Suaramu tahun lalu
Dan, sepertinya daun gugur tak memberikan kabar

Tubuhmu disana
Tubuhku disini kehilangan matahari
Mataku mencari bayang-bayang
Mari kembali, rinduku sudah mulai beruban
Sewaktu langit lepas
Janjimu menanti di kursi depan

Kembalilah
Sebelum hujan datang menginjak pasir
Mematahkan reranting, menguning lalu pupus
Karena kamu, dan kita tak bisa mengulangi sejarah
Ia, sejarah tanpa kisah

Jogjakarta, 2012.

Sajak Malam Hari

Langit retak
Gerhana bintang berganti kunang-kunang
Gelombang kandas di pelabuhan
Terjatuh kemuka jurang

Lantaran jiwa terbakar
Jantung berganti jarum jam
hari menyanyikan sedih berkisah
Dan, rindu memisau di dada

Jogjakarta, 2012.

Pengembara Tubuh

Sajak: Jufri Zaituna

Di keningmu, kukecup
Permata yang berkilauan
Cahaya melingkar di jari-jari
Manismu yang gemetar
Menerangi janji-janji suci
Dalam kenisbian ilahi
Antara malam kegaiban
Dan degup jantung
Yang terus bersahutan

Di bibirmu, aku berkaca
Wajahku memerah
Sukmaku hilang arah
Dingin membakar darah
Di langit mempesona
Gigil di puncak kekosongan
Sewaktu kaugigit lidahku
Kugigit lidahmu
Sampai kita sama-sama bisu

Di dadamu, aku berjalan
Sambil kupeluk bayangan
Bulan berwarna putih melon
Malam kian licin
Kegelapan jatuh di pangkuan
Namun kita masih tertidur
Menggigil di puncak angin

Di pusarmu, aku penari
Yang mabuk di atas perahu
Tak ada suara, selain bisikan
Hati yang mengema
Mengalirkan asmara
Yang teramat gilanya
Terhuyung-huyung
Tenggelam ke dalam pusaran
Palung segala muasal

Di kelaminmu, aku kelelawar
Yang menggantung
Berayun-ayun
Antara malam dan siang
Saat malam kesepian
Di ranjang terbakar puisi
Yang kutulis dengan
Semerbak bunga melati

2012

Penolong

Sajak: Matroni Muserang

Bila tak sanggup menampung
Kemelut luka kehidupan

Gebalau terus mengejar
Pengetahuan tak bisa mengurai
Kerisauan tak terbendung
akan kumaknai
lewat jari-jari waktu

sorak-sorai kesendirian
terbengkalai laut lena ketenggelaman

ruas jalan merisau
sukma tertahan bara
seperti batu kau puja
matahari kau sembah
takkan kau temukan
ladang kesejukan kau idamkan

jiwa meronta-ronta
agar cepat kau baca
biar tumpah air cinta
di jambangan cahaya

“adamu sempurna”

biarkan ia bicara indah
bersajak kebenaran

di lembah meditasi
kau hadirkan orang tua
kau kalungkan dalam diri
sembahkan pada Ilahi

gerimis airmata
memikirkan rasa
jauh dari semesta

kau tak rela jiwamu kehausan
pikiran tak karuan
sukma berserakan
jari-jari airmata datang menawarkan sejumlah
percintaan penuh asmara

bila tak sanggup menampung
kemelut luka kehidupan
airmata adalah penolong setia

Jogja, 6 Agustus, 2012

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons